Selasa, 14 Desember 2010

Tips Mengendarai Mobil Matic


Bagi pengendara pemula atau orang yang sama sekali tidak dapat mengendarai mobil, belajar menggunakan mobil dengan persneling otomatik lebih mudah. Mengingat ia hanya perlu meletakkan atau mengistirahatkan kaki kiri di tempat injakan kaki (foot rest), dan menggunakan kaki kanan untuk menginjak pedal gas (akselerator) atau menginjak pedal rem.

Pada mobil dengan persneling otomatik, dalam keadaan idle (pedal gas tidak diinjak) gas sudah cukup besar sehingga apabila tangkai persneling diletakkan di D (drive), mobil sudah akan melaju. Itu sebabnya, sebagai pengaman, mesin tidak dapat dihidupkan jika pedal rem tidak diinjak. Pedal rem harus tetap diinjak setelah mesin hidup. Sebab, jika tidak, tangkai persneling tidak dapat dipindahkan dari huruf P (parking) ke huruf D.
Setelah mobil melaju, konsentrasi pengendara terpusat pada setir dan rem. Ia sama sekali tidak perlu menginjak pedal kopling dan melepaskan injakannya saat menaikkan atau menurunkan gigi persneling seperti orang yang mengendarai mobil dengan persneling manual.

Dengan demikian, pada saat belajar, pemula tidak akan mengalami mesin mati karena injakan di pedal gas terlalu lembut saat injakan di pedal kopling dilepaskan, atau saat melepaskan kopling terlalu cepat, atau saat terlambat menurunkan gigi persneling ketika mobil melaju perlahan. Bahkan, mesin tidak akan mati saat mobil menanjak. Jika terjebak di tengah kemacetan lalu lintas, menggunakan mobil dengan persneling otomatik lebih enak karena kaki kiri tidak perlu menginjak dan melepaskan pedal kopling, yang semakin lama semakin terasa berat.
Sedangkan pengendara yang sudah mahir mengemudikan mobil dengan persneling manual, ketika mengendarai mobil dengan persneling otomatik mungkin sedikit lebih repot. Ia harus membiasakan diri untuk tidak menggunakan atau mengistirahatkan kaki kirinya. Mengingat pada mobil dengan persneling manual, pengendara menggunakan kaki kanan untuk menginjak pedal gas atau pedal rem, sedangkan kaki kiri digunakan untuk menginjak dan melepaskan pedal kopling. Akibatnya, pada tahap awal, tidak jarang pengendara akan menginjak rem dengan kaki kiri.

Sebagai analogi, mengendarai mobil dengan persneling otomatik sama seperti mengendarai skuter otomatik (skutik). Tinggal menarik handel rem dengan tangan kiri dan tekan tombol start untuk menghidupkan mesin. Setelah itu tinggal lepaskan handel rem, putar handel gas dengan tangan kanan, dan skutik melaju. Selama perjalanan, pengguna skutik hanya menggunakan tangan kiri dan tangan kanan. Menarik handel rem belakang dengan tangan kiri dan handel rem depan dengan tangan kanan. Selama perjalanan, pengendara tidak perlu menaikkan atau menurunkan gigi persneling. Kedua kaki praktis menganggur. Perbedaannya dengan mobil dengan persneling otomatik hanyalah skutik tidak memiliki gigi persneling mundur.
Fungsi huruf dan angka
Pada mobil dengan persneling otomatik, untuk maju, pengendara tinggal memindahkan tangkai persneling ke huruf D, mundur huruf R (reverse), netral (N), dan untuk parking (P). Di luar keempat huruf itu ada pula angka 3, 2, 1 atau L, atau hanya 2, 1 atau L (tergantung merek mobilnya). Atau huruf S (Sport) apabila pengendara menginginkan performa sport, di mana putaran mesin per menit menjadi lebih tinggi.
Angka-angka itu diperlukan pada saat ingin mengurangi kecepatan dengan mesin (engine brake) saat melaju di turunan. Pada saat dirasakan mobil melaju terlalu cepat di turunan, maka tangkai persneling tinggal dipindahkan ke angka 2 (sama dengan gigi persneling 2 pada mobil dengan persneling manual). Bahkan kalau perlu pindahkan ke angka 1 jika turunan itu sangat curam. Angka 2 dan 1 juga digunakan pada saat mobil memerlukan tenaga besar, tetapi tetap melaju perlahan di jalan tanah atau kondisinya agak berlumpur.
Kekhawatiran mobil dengan persneling otomatik tidak kuat menanjak juga tidak perlu terjadi. Yang diperlukan hanyalah melakukan kickdown (menginjak pedal gas dalam-dalam) pada saat putaran mesin menurun. Dengan demikian, gigi persneling akan turun sehingga putaran mesin naik kembali dan mobil akan menanjak dengan baik.
Sebaiknya, pengendara tahu torsi maksimum mesin mobilnya dicapai pada putaran mesin berapa? Umumnya, torsi maksimum mesin mobil dicapai pada 4.000 rpm. Karena itu, menjaga putaran mesin pada 4.000 rpm adalah cara terbaik saat menanjak. Ini juga berlaku bagi mobil dengan persneling manual. Namun, jika tidak mau repot, bisa juga tuas persneling dipindahkan dari D ke angka 3 atau 2. Dan, setelah kecepatan bertambah tinggi, tangkai persneling dikembalikan ke huruf D.
Pada mobil dengan persneling otomatik yang dilengkapi tiptronic, termasuk Honda Jazz dan Honda City, segalanya lebih mudah. Mengingat pengendara dimungkinkan untuk menaikkan atau menurunkan gigi persneling secara manual tanpa kehadiran pedal kopling. Bahkan, pada kedua mobil tersebut gigi, persneling juga dapat dinaikkan dan diturunkan melalui tombol-tombol yang terdapat di setir.
Pada mobil yang dilengkapi tiptronic, tidak ada angka 3, 2, 1 atau L di dekat tangkai persneling, atau di setir (pada merek tertentu), yang ada hanya tanda plus (+) dan minus (-).
Dengan demikian, pada saat mobil melaju di jalan lurus, menanjak, atau menurun, pengendara tinggal memindahkan tangkai persneling ke posisi manual, atau menekan tuas di setir, untuk mengoperasikan tiptronic. Pada saat tiptronic sudah difungsikan, maka indikator di dashboard yang sebelumnya menunjukkan huruf D akan berubah menjadi angka 5, 4, 3, 2, atau 1 untuk menunjukkan pada gigi persneling berapa mobil sedang melaju. Setelah itu, pengendara tinggal menaikkan atau menurunkan gigi persneling sesuai dengan keperluan atau keinginan.

Bisa dinetralkan

Di Indonesia, pada saat areal parkir sudah penuh, sering kali petugas parkir akan meminta mobil diparkir sejajar di belakang mobil-mobil yang diparkir vertikal. Dengan demikian, petugas parkir akan meminta agar persneling mobil dinetralkan (N) dan minta rem tangan tidak ditarik sehingga mobil dapat didorong ke depan atau ke belakang apabila ada mobil yang diparkir vertikal akan keluar.
Di masa lalu, tidak mungkin bagi mobil dengan persneling otomatik memarkir mobilnya sejajar di belakang mobil yang diparkir vertikal. Mengingat kunci mobil tidak dapat dilepaskan, apabila tangkai persneling tidak dipindahkan ke huruf P. Padahal jika tangkai persneling dipindahkan ke huruf P, mesin dimatikan, dan kunci dicabut, tangkai persneling tidak dapat dipindah-pindah lagi. Selain itu, mobil juga tidak dapat didorong ke depan atau ke belakang.Namun, masalah itu kini telah diatasi. Pada beberapa merek tertentu, persneling otomatik dilengkapi dengan lubang shiftlock, dengan demikian pengendara tinggal masukkan kunci ke dalam lubang shiftlock dan memindahkan tangkai persneling dari huruf P ke huruf N, dan mobil dapat didorong ke depan dan ke belakang.
Kekhawatiran yang tertinggal dari masa lalu adalah kalau mogok, mobil dengan persneling otomatik tidak dapat didorong, berbeda dengan mobil dengan persneling manual. Akan tetapi, itu dulu, di mana mobil belum menggunakan komputer. Kini, teknologi otomotif sudah maju sehingga mobil yang dirawat secara berkala sesuai dengan anjuran, secara teoretik tidak akan mogok mendadak. Dan, kalaupun mobil sampai mogok, pastilah mesin tidak akan hidup dengan didorong. Yang perlu dilakukan adalah menelepon layanan servis 24 jam (tergantung merek mobil), dan mereka yang akan mengurus segala sesuatunya.


Tips Mengendarai Mobil Matic
Mobil matic sangat cocok digunakan di kota-kota besar yg sering macet dan tidak banyak tanjakan. Kita tidak akan merasa capek jika mengendarai mobil matic karena hanya satu kaki yang bekerja…gas..rem gas dan rem hanya dengan satu kaki yakni kaki kanan. Sesuai dengan hasil penelitian dan pengamatan pakar-pakar mobil matic di Indonesia ada beberapa penyebab kerusakan mobil matic. 85% mobil matic rusak karena keterlambatan ganti oli, 10% rusak karena umur mobil yg sudah di atas 10 tahun, dan 5% lagi karena cara pemakaian kita masing-masing. Ada beberapa tips dalam mengendarai matic supaya mobil matic kita tetap awet dan tahan lama:
* Pada saat starter awal jangan lupa injak rem, masukkan perseneling, setelah itu baru dilepas rem pelan dan jalan…
* Pada saat tanjakan injak saja gas mobil sampe poll, jangan gunakan perseneling 2 dan 1, perseneling ini hanya digunakan untuk engine break.
* Pada saat menggunakan perseneling 2 atau 1 dari D injak sedikit rem.
* Pelan-pelan pada saat jalan tidak rata apalagi jika mobil kita agak rendah.

Satu lagi cara Mengemudi Mobil Transmisi Otomatis

Mengemudikan mobil bertransmisi otomatis memang sangat mudah. Namun demikian anda tetap perlu mengenal petunjuk pengemudiannya secara benar agar anda dapat menikmati semua fungsi transmisi otomatis yang tersedia demi kenyamanan mengemudi di berbagai situasi jalan dan mencegah kerusakan pada sistem transmisi tersebut. Ikut petunjuk berikut ini :

* Sebelum Menghidupkan Mesin
1. Atur posisi duduk yang nyaman. Biasakan menginjak pedal rem hanya dengan kaki kanan.
2. Kenali letak pedal gas. Biasakan hanya menginjak gas bila ingin melaju dan menginjak pedal rem saat ingin berhenti.
3. Jangan menginjak pedal rem dengan kaki kiri untuk menghindari terjadinya penginjakan pedal rem dan gas secara bersamaan.

* Saat Akan Menghidupkan Mesin
1. Pastikan rem tangan terpasang. Injak pedal rem dengan kaki kanan.
2. Pastikan tuas transmisi pada posisi (P). Mesin hanya dapat distarter bila tuas transmisi pada posisi (P) atau (N), namun dianjurkan pada posisi (P) agar lebih aman karena pada posisi ini seluruh roda dalam posisi terkunci. Kemudian hidupkan mesin.

* Saat Akan Menjalankan Kendaraan
1. Injak pedal rem dengan kaki kanan. Rem mutlak diinjak karena mobil otomatis cenderung maju sendiri meski pedal gas belum diinjak sekalipun.
2. Pindahkan tuas transmisi ke posisi (D) untuk maju, posisi (R) untuk mundur.
3. Pastikan ketepatan tuas pemindah pada posisi yang diinginkan. Lepaskan rem tangan.
4. Pelan-pelan lepaskan pedal rem, lalu tekan pedal gas secara seksama dengan kaki kanan. Tekanlah pedal gas secara bertahap untuk menambah kecepatan.

* Saat Melaju
1. Kondisi Normal : gunakan posisi (D) cukup mengopersikan pedal gas dan rem.
2. Turunan : di jalan naik dan turun, biasakan memakai “hold” atau “OD off” atau posisi “2? untuk mendapatkan efek pengereman mesin atau engine brake. Jangan memakai posisi (N) pada saat melaju di jalan turunan karena tak adanya efek pengereman mesin atau engine brake.
3. Turunan Curam : gunakan posisi (L) untuk menahan laju kendaraan dan membantu kerja rem.
4. Sentakan (Kick Down) : tekanlah pedal gas sepenuhnya untuk mempercepat laju kendaraan atau menyalip mobil lain.

* Saat Berhenti
1. Di posisi (D) injak pedal rem disaat kendaraan berhenti. Tariklah rem tangan jika perlu.
2. Jika berhentinya lama misalnya di lampu merah, gunakan posisi (N).
3. Untuk kembali melaju, sesudah berhenti injaklah rem. Pindahkan tuas transmisi ke posisi (D), lepaskan rem lalu injaklah pedal gas secara bertahap.

* Saat Parkir
1. Parkirlah posisi kendaraan secara benar. Injaklah pedal rem dan tarik rem tangan.
2. Pindahkan posisi tuas pada posisi (P) agar roda dalam posisi terkunci aman.
3. Matikan mesin. Demi keamanan mesin harus dimatikan sewaktu anda meninggalkan mobil dan cabut kunci kontak.

Dikutip dari berbagai sumber

2 komentar:

Widyan Widoseno mengatakan...

terimakasih atas informasinya...

uli mengatakan...

Makasi info nya gan..

Poskan Komentar

,